Sabtu, 01 Desember 2012


Yang telah lama kita perjuangkan

Sesaat, aku menatapmu lekat-lekat
Menatap kita yang semakin menjauh
Sejauh ini kau bawa aku melangkah
Selama ini kau tentukan arah
Tapi, kau biarkan aku membeku dalam waktu

Apakah yang kuperjuangkan hanyalah terlihat semut kecil di pelupuk matamu?
Apakah yang telah kukorbankan hanyalah secuil kebahagiaan bagimu?
Siapa aku di matamu?
Hingga begitu sulit kau lepaskan aku dari jeratanmu

Ketika perpisahan adalah pilihan
Sadarkah ada aku yang diam-diam harapkan penyatuan?
Ketika tak ada lagi yang mampu diselamatkan
Sadarkah masih ada aku yang lakukan perjuangan?

Aku tak ingin mundur selangkahpun
Kita sudah berjalan terlalu jauh
Rasa yang kupunya terlalu dalam
Jika masih bisa perjuangkan segala
Mengapa harus tentukan perpisahan sebagai akhir?

Bukankah doa-doa kita masih saling berpeluk?
Bukankah sujud dan rapalan doa kita masih begitu manis?
Inginkah semua berakhir dengan begitu cepat?

Tataplah aku…
Yang masih inginkan kamu jadi sebab tawa dan tangisku
Lihatlah aku…
Dan mari lanjutkan yang telah lama kita perjuangkan

Aku tidak rindukan kamu
Aku hanya rindukan kita yang dulu. 

Aku mencintaimu dengan caraku: memenjarakan cinta tanpa kau tau.
Ketika kaki ini tak mampu lagi bersandar pada tepi; yang orang bilang adalah ragu, jemari-jemari renta menggetarkan sebuah hasrat bernama rindu. Mereka berkelahi dengan waktu dan juga anatomi tubuhku lainnya yang biasa ku sebut hati. Mereka seakan saling melontarkan gurindam-gurindam yang dapat merubah haluan, bahkan membatalkan perjalanan mereka ke tempat tujuan. Memerlukan sebuah nyali agar beberapa pesan didalam hati bisa tersampaikan lewat jemari-jemari renta yang sudah tak sabar untuk melakukan tugasnya.
Ketidakkuasaan, memaksaku untuk menyimpannya didalam diam. Sebuah pertanyaan yang dapat dilontarkan kepada siapa saja yang berhak melakukannya. Tapi tidak bagiku. Aku hanyalah Candala yang begitu tergesa-gesa memberi tulus cinta kepadamu yang bertahta. Keadaan ini sudah terlalu sering membuatku jera untuk melakukannya. Ya. Cinta.
Keadaan yang menyudutkanku pada ruangan gelap dimana tersimpan banyak luka, sedangkan disana hanya ada sebatang lilin yang menemaniku dengan sinar bahagianya yang sementara.
Aku mencintaimu dengan caraku. Maaf, maksudku dengan kebodohanku.

“Suatu saat nanti, kamu akan tau, siapa yang menyayangimu tanpa menghitung waktu.”
Aku, berdiri pada pijakanku yang tak bertepi. Aku bukan mengharapkanmu kembali dan memelukku lagi. Beberapa suara memang terdengar sedang mengatakan itu, tapi dalam kesungguhan, bukan aku yang menyuarakannya. Kamu selalu bertanya tentang mengapa aku mempersilakanmu pergi, tentang apakah aku sudah tidak memperdulikanmu lagi, dan tentang mengapa aku tidak menagih sebuah janji. Ketika aku mempersilakanmu pergi, hanya satu hal yang terpikir olehku. Betapa bahagianya kamu nanti, setelah kamu merasakan penyesalan yang mendalam, lalu mempelajari, dan memahaminya. Agar suatu saat nanti, jika kau dipertemukan dengan hal yang sama, kamu tidak lagi mengulanginya. Ini sungguh menyimpang dari kenyataan, tentang kepedulianku terhadapmu yang kau anggap adalah ketidakpedulianku kepadamu. Pernahkah terbayang olehmu, soal sudah berapa banyak waktu yang ku buang untuk mencintaimu disaat aku tidak ingin lagi menghitungnya? Pertanyaan terakhirmu sungguh menggelitik, aku tidak ingin menjawabnya. Janjiku yang mana yang baru aku tepati setelah mendapat tagihan darimu? Sudahlah, nikmati saja ketiadaanku. Ini keputusanmu.
“Saat ini mungkin tidak. Tapi nanti, tentang seringnya aku memelukmu; dulu, akan dengan tiba-tiba menghantuimu. Dan kerinduanmu terhadapku, bermula dari situ.”